|

Personal Music Revolution (Everybody Change)


Buku karya Alan Deutschmen, yang berjudul Change Or Die, cukup menohok bagi saya dan mungkin juga bagi siapapun yang membacanya. Karena memang dalam kehidupan perlu adanya perubahan, selain kita dituntut untuk berani mengambil keputusan. Perubahan yang akan saya bahas disini, saya fokuskan pada satu obyek semata, yess we gonna talk about orang-orang yang melakukan transformasi dalam dunia musik. Saya setuju dengan mendiang Michael Jackson yang berbicara tentang perubahan dalam lagu Man In The Mirror, penggalan liriknya sebagai berikut “im talkin with a man in the mirrors, im asking you to changes you ways…take a look it yourself and make a changes”.

Bila kita flashback kebelakang mungkin telah banyak musisi yang melakukan perubahan, tetapi saya hanya mengangkat beberapa diantaranya saja, yang cukup menarik kita bahas, itupun yang masih berada dalam domain musik underground, atau setidaknya beranjak dari scene. Okay semua pasti pada tau lagu berjudul Iris dong, lagu yang begitu populer sebagai soundtrack film City Of Angel tersebut, dilantunkan oleh Goo Goo Dolls, namun siapa yang menyangka bila mereka mengawali karier musik mereka sebagai band punk rock, nah Goo Goo Dolls merupakan satu diantara banyak fakta terkait transformasi, yang akan kita bahas selanjutnya, dibawah.

Fakta lainnya we’ve got Sugar Ray, coba deh simak karya-karya mereka di album terdahulu, bedakan setelah mereka merekrut DJ Homicide. Then Beastie Boys, yess peoples know they are as a hip-hop group, padahal mereka jelas-jelas berasal dari band punk hardcore, lantas A Fire Inside atau AFI, juga melakukan hal yang sama. Lanjut ke Society System Decontrol atau yang familiar dengan sebutan SSD, juga demikian, garda depan band hardcore asal Boston ini pun, mencoba merubah haluan musik mereka di album How We Rock, yang kental akan nuansa heavy metal, karna terpicu boomingnya glam-rock kala itu, sayangnya dewi fortuna tidak berpihak pada mereka, setali tiga uang dengan T.S.O.L dan Bad Religion pada album kedua mereka  yang bertajuk Into The Unknown, yang mengalami nasib serupa.

Adalah Ian mc Kay, founder sekaligus leader band Minor Threat ini, lantas melakukan transformasi dengan membentuk Fugazi, lalu Joe Gittleman dari Gang Green dan Dicky Barret dari Units Impact, kedua-duanya berasal dari band hardcore yang berbeda, tapi kedua-duanya sepakat untuk membuat perubahan di band baru mereka yakni The Mighty Mighty Bosstones. Lantas Chumbawamba, yang begitu popular dengan lagu Thumpthumping di era 90’an, nekat banting stir dari band anarcho-punk, sekelas Crass ataupun Conflict.

Perubahan signifikan juga dialami secara personal oleh Johnny Rotten, pentolan band Sex Pistols, ini tiba-tiba muncul dengan PIL, setelah band yang membesarkan namanya itu resmi bubar. The Clash pun demikian, ditengah invasi musik new-wave, pada gilirannya Joe Strummers terdorong melakukan eksperimen dengan sound-sound baru, alhasil terciptalah album seperti Combat Rock dan Sandinista. Lain halnya dengan Morrissey ia lebih memilih bersolo karier, ketimbang tetap bersama The Smith, kasus serupa juga dilakukan oleh vokalis band pop-punk Midtown, yang kemudian menjelma kepermukaan dengan Cobra Starship dan Tom Delonge dengan alter-ego barunya yakni Angel and Airwaves.

Di bandnya terdahulu Inside Out, nama Zack dela Rocha tidak terlalu menonjol, tapi ketika ia dan Tom Morello mendirikan Rage Against The Machine, publik mana yang tidak mengenal mereka, hal senada pun dilakukan oleh Dave Grohl yang beranjak dari band punk Scream. Lalu ada Moby, yang memilih meninggalkan band punk hardcore-nya Vatican Commandos, begitu pula yang dilakukan oleh Big John Duncan ex-gitaris serta pendiri band The Exploited ini, menemukan dirinya kembali di musik dalam band alternatif bernama Goodbye Mr. Mackenzie (with future Garbage singer Shirley Manson). Smash Mouth dan No Doubt pun demikian, mempermak habis musik mereka menjadi lebih komersil.

Bila ditanah air kita mengenal sosok Marcell Siahaan, mantan drummers Puppen band hardcore legendaris asal kota kembang ini, sekarang lebih concern dengan solo karirnya, lainnya ada Jimi Multhazam, dikomunitas ia dikenal sebagai drummers band punk hardcore Be Quiet, yang lantas membentuk The Upstairs, sementara Hanry aka Batman rekan se-band nya membentuk Goodnight Electric. Burger Kill pun demikian,  mengawali karirnya dari scene hardcore, yang tak kalah fenomenal adalah ketika Pistolaer, merubah haluan musik mereka ke Madchester Scene band macam The Stone Roses, Ride, Happy Monday dan lain-lain, padahal diawal mulanya mereka kerap mengcover lagu-lagu milik Sex Pistols.

Sesungguhnya banyak hal yang melandasi seorang individu untuk melakukan perubahan dan paparan saya diatas hanya segelintir fakta saja, dari berbagai contoh yang bisa kita jadikan cerminan, atau setidaknya hal ini dapat jadi stimulus bagi kamu, saya ataupun para pembaca lainnya, untuk mengapai hal yang diinginkan dalam dunia musik. Nah kawan lakukanlah perubahan dalam kehidupan ini, karna perubahan adalah kunci mengapai kesuksesan, akantetapi bila perubahan yang kamu jalani tidak berujung pada keberhasilan, coba lagi di jalan yang berbeda, tanpa kata menyerah, karna hidup hanya sekali, so do it the right things, be a part of happier peoples and don’t care what they say, kalo kata Om Thom Yorke dari Radiohead “you do it to yourself just you, you and none else”….*Rahman

Posted by capunx on Rabu, September 30, 2026. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Personal Music Revolution (Everybody Change)"

Leave a reply

Capunx Inc.

Tags